Brigjen TNI (purn) Johannes Marcus Pattiasina, Ekspor Perdana Minyak, Indonesia Bisa! - Berita Harian Teratas

(Tulisan keempat dari 5 tulisan)

Johannes Marcus Pattiasina melakukan pertemuan dengan delegasi negara asing (tiga dari kiri). (foto:dok.keluarga)


KETIKA tiba di Pangkalan Brandan, Pattiasina mendapati persoalan yang cukup pelik. Namun, prioritas pertama pattiasina bagaimana agar minyak segera diekspor, karena hal itu akan memberikan kepercayaan diri kepada Indonesia, kalau Indonesia bisa mengelola sendiri sumber daya minyaknya. Sebab, kalau pengiriman pertama berhasil, maka akan menjadi cerita baik, kalau Indonesia mampu dan bisa memperoleh kepercayaan untuk mengelola minyak sendiri.

Kedatangan Pattiasina dan satu batalyon yang dipimpinnya dari Palembang, bukan sekadar untuk kepentingan pengamanan di Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu, tetapi pasukan teknik dari Sumatera Selatan ini juga mumpuni dalam mengerjakan pekerjaan teknik. Bahkan, ada beberapa di antaranya yang merupakan ahli las dari zaman Hindia Belanda di Plaju dan Sungai Gerong.

Walau masih banyak persoalan yang melilit di lapangan, tetapi Pattiasina tetap fokus untuk segera bisa mengirim minyak ke luar negeri. Sebab, Pattiasina bertugas untuk mempersiapkan dan memastikan pengapalan minyak dari Pangkalan Susu ke luar negeri. Ibnu Sutowo sangat mengetahui kualitas Pattiasina karena sama-sama berjuang di Sumatera Selatan, kalau hal seperti ini akan sanggup ditangani Pattiasina. Selain itu, dalam struktur militer, Pattiasina juga merupakan Komandan Bukit Barisan 34, yang merupakan wilayah strategis perminyakan.

Berbagai usaha keras dan ketekunan yang luar biasanya, akhirnya minyak bisa juga ditampung dalam tangki di Pangkalan Susu. Setelah melakukan penampung minyak mentah, pada akhirnya sejarah mencatat Indonesia untuk pertama kalinya mengirim minyak hasil kerja sendiri ke luar negeri. Tepat pada 24 Mei 1958, minyak mentah pertama dari Indonesia resmi dimuat di kapal Shozui Maru. Kapal kecil berukuran sekitar 3.000 dwt hanya mampu mengangkut 1.700 ton minyak mentah dengan nilai jual sekitar $ 30.000.

Selain Anak Buah Kapal (ABK), juga terdapat enam orang dalam Kapal Shozui Maru yang akan membawa minyak ke Jepang, yakni Mayor Harijono, Mayor Pattiasina, Basaruddin Nasution (Perwakilan Permina), Jimmy Perkins, Joe Gohier dan Harold Hutton serta Betty Hutton (Perwakilan Refican). Keikutsertaan Basaruddin Nasution ini lebih kepada aspek legal, karena Basaruddin Nasution merupakan ahli hukum di Angkatan Darat. Sedangan Refican (Refining Associates Canada Ltd) ini merupakan perusahaan Hutton yang bekerjsama dengan Permina.

Keberhasilan Permina mengirim perdana minyak ke Jepang ini menyebabkan Pattiasina ditawari sebagai Direktur Teknik dan Eksploitasi (Permina). Pattiasina mendirikan Kantor Pusat di Pangkalan Brandan dan dengan caranya sendiri menyusun organiasi pengoperasian kantor. Dia memilih menggunakan cara-cara biasa berdasarkan pengalamannya dalam bisnis perminyakan.

Pengalaman Pattiasina dalam memperbaiki kerusakan kilang di Sumatera Selatan dalam masa perang, sangat cocok dengan situasi yang terjadi di Pangkalan Brandan. Apalagi perbaikan kilang pada zaman Jepang dan perang, memang hanya memanfaatkan material rongsokan.

Karena satu batalyon yang dibawa Pattiasina dari Sriwijaya, bukan tentara biasa, karena merupakan orang teknik di Genie Pioner, yang terbukti handal dalam situasi darurat. Pattiasina memiliki prinsip sebagai seorang Genie, “Tidak ada tempat yang tidak bisa dibangun di bawah kolong langit”.

Jabatan sebagai Direktur Teknik dan Eksploitasi tidak berlangsung lama, karena pada September 1958, Pattiasina menduduki jabatan sebagai Direktur Pelaksana, karena koleganya Mayor Geudong kembali ke Jakarta sebagai Direktur Keuangan dan Administrasi. Dengan jabatan baru ini, sebenarnya Pattiasina merupakan penangggung jawab penuh di Sumatera Utara, karena Ibnu Sutowo sebagai Direktur Utama hanya sesekali berkunjung ke Pangkalan Brandan.

Jabatan baru Pattiasina ini juga unik, karena merupakan satu-satunya direktur yang berkantor di luar Jakarta. Pattiasina juga mengangkat tiga asisten yang merupakan tim inti untuk melaksanakan kebijakan Pattiasina, yakni Mayor Y. Karinda, Mayor Husni, dan Kapten Rani Junus. Namun, Pattiasina menyadari keberhasilan ekspor minyak pertama ke Jepang hanya langkah awal untuk membenahi seluruh persoalan di Sumatera Utara, khususnya Pangkalan Brandan. Upaya memperbaiki kilang dan berbagai instalasi, tidak mungkin berjalan kalau tidak membenahi persoalan lain yang ada.

Persoalan pertama yang harus diselesaikan adalah gangguan keamanan karena tentara DI/TII masih eksis, sementara PRRI juga mendarat di Sumatera Utara dan Aceh. Selain itu, pekerja minyak juga ada yang menjadi simpatisan DI/TII dan PRRI, dan tentu Pribumi yang berafiliasi dengan PKI. Meskipun memiliki pasukan, tapi Pattiasina tidak mengedepankan penggunaan senjata.

Project submarine pipe line, Pangkalan Susu. JM Pattiasina dan Husni.
Untuk DI/TII, Pattiasina tidak melihat mereka sebagai lawan, karena Pattiasina juga mengetahui perjuangan Tengku Daud Beureuh dalam masa perjuangan. Pattiasina melakukan pendekatan dengan mendatangi tokoh DI/TII. Pattiasina hanya meminta, agar dirinya tidak digganggu dalam melakukan perbaikan kilang dan pipa.

Sikap bersahabat Pattiasina ini mendapat sambutan baik dari tokoh DI/TII. Dengan perantara beberapa tokoh Aceh, Pattiasina melakukan kontak dengan tokoh DI/TII. Sebelum melakukan dialog, Pattiasina terlebih dahulu mencoba memutus rantai logistik bagi gerilyawan DI/TII. Hal ini untuk memberikan pesan, kalau TNI juga bisa memberikan kesulitan tersendiri bagi gerilyawan.

Pattiasina cukup berpengalaman dengan gerilya, sehingga mengetahui dimana kelemahan untuk melemahkan atau memaksa untuk berdamai. Dengan memutus pasokan logistik ini, menyebabkan Pattiasina dengan mudah melakukan pendekatan dengan gerilyawan. Pattiasina menjamin akan memberikan kepada orang Aceh yang memiliki kemampuan untuk menduduki posisi penting. Namun, yang belum akan terus dibimbing sehingga pada saatnya bisa mengambil peran. Pattiasina mengetahui, kalau masyarakat membutuhkan kehidupan yang layak dan wajar.

Project refinery Putri Tujuh Dumai.
Dengan berbagai pendekatan, Pattiasina mampu meyakinkan pemberontak untuk bekerjasama dengan bekerja di Permina, baik sebagai karyawan atau apapun pekerjaan yang ada. Hanya saja, Pattiasina berterus-terang, mereka belum bisa memberikan gaji dan jaminan kesejahteraan yang baik, karena semua berada dalam keterbatasan. Semua akan dibenahi perlahan-lahan, tapi Pattiasina memastikan kalau semua pekerja tidak akan kekurangan makanan. Semua hidup dan kerja dalam suasana prihatin.

Keikhlasan pekerja dan prajurit itu tidak lepas dari sikap Pattiasina yang juga bersedia menyatu dengan kehidupan prajurit. Pattiasina tidak sungkan untuk turun ke gorong-gorong memperbaiki sendiri pipa, keran dan tangki. Pattiasina komitmen dengan janjinya. Dia memberikan kesempatan kepada masyarakat Aceh dan Sumatera, Pattiasina juga mengangkat tiga orang Pimpinan PTMSU setempat untuk memegang jabatan.

Persoalan kedua, Pattiasina harus menyelesaikan persoalan pekerja perminyakan, karena sebelum kedatangannya diwarnai pertentangan antara pekerja yang tergabung dalam Perbum dan non-Perbum. Pertentangan ini juga menjadi masalah serius, yang sangat sulit diatasi sebelum Pattiasina datang ke Pangkalan Brandan. Pattiasina menerapkan aturan yang berlaku sama bagi semua pegawai. Untuk memastikan setiap orang bekerja, Pattiasina menerapkan sistem kinerja yang dipermudah dengan slogan “tidak ada kerja, tidak ada gaji”. Penerapan cara penggajian seperti ini sangat maju pada zaman itu, sehingga tidak ada lagi pekerja yang menerima gaji tanpa bekerja. (bersambung)

Ditulis Oleh: Zulfiqar M.A. Lestaluhu, S.Sos, M.Si
Pengajar di Universitas Darussalam Ambon Kampus Induk Tulehu



from Berita Maluku Online Brigjen TNI (purn) Johannes Marcus Pattiasina, Ekspor Perdana Minyak, Indonesia Bisa! - Berita Harian Teratas
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==